Pengenalan Telling Stories and News Reading
Pengenalan Story
Telling dan News Reading sebagai media pembelajaran bahasa Inggris bagi
siswa-siswi Sekolah Menengah Atas
Oleh: Tri Wahyuni
Floriasti.
Era globalisasi pada saat ini menuntut
generasi muda untuk selalu Mengembangkan potensi diri. Satu hal yang perlu
dikuasai untuk meningkatkan daya Saing di pasar global adalah penguasaan Bahasa
Inggris. Bahasa Inggris sebagai Bahasa internasional berperan sangat penting
dalam dunia industri, perdagangan, Pendidikan. Hampir semua sektor menggunakan
bahasa Inggris sebagai bahasa Pengantar.
Melihat perannya yang dominan tersebut, sudah selayaknya penguasaan Keterampilan
bahasa Inggris menjadi bagian penting bagi siswa-siswi di Indonesia.
Proses
yang benar, materi yang baik serta pengajar yang mengetahui cara yang tepat dalam
penyampaian materi merupakan kunci dalam menguasai Bahasa
Inggris. Namun banyak kendala yang dihadapi dalam mengajarkan Bahasa Inggris,
misalnya Mencari materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa bukanlah hal mudah.
Langkanya Materi yang sesuai dengan kebutuhan dan situasi dapat mendorong
pengajar untuk Menggunakan materi yang sama berulang-ulang tanpa
mempertimbangkan Kesesuaiannya dengan pembelajar. Hal ini tentu saja akan
menimbulkan kebosanan Pada siswa dan juga mengurangi kemutakhiran materi. Untuk
mengatasinya, pengajar Dapat memanfaatkan story telling dan news reading
sebagai salah satu cara Penyampaian materi bahasa Inggris kepada siswa-siswi
SMA.
Memperkenalkan
Story Telling dan News Reading untuk pembelajaran Bahasa Inggris Story sangat
menarik bagi pembelajar karena berisi pengalaman yang indah, lucu dan menarik.
Banyak orang memakai story untuk meninabobokkan anak, memberi Petuah dari orang
tua kepada orang muda dan menceritakan hal-hal tersebut tidak mahal. Melalui
cerita banyak hal yang dapat disampaikan dan dipahami oleh Pendengar, karena
cara penyampaiannya yang menarik, bahasa yang digunakan juga Lebih sederhana.
Situasi ini memberikan kesan yang tersendiri bagi pendengar, karena Mereka merasa
rileks. Melihat situasi ini, maka cara pembelajaran bahasa Inggris dapat mencontoh
apa yang terjadi dalam penyampaian cerita.
Listening and reading
fluency
Anak-anak cenderung
ingin mendengarkan lagi cerita lainnya segera setelah cerita yang sebelumnya
berakhir. Jadi mereka sangat termotivasi untuk mendengarkan materi cerita.
Kegiatan story telling ini sangat membantu peningkatan kemampuan menyimak siswa
di sekolah dalam proses pembelajaran. Kemampuan lain yang terasah adalah membaca.
Kemampuan tersebut dapat terasah karena banyaknya latihan membaca cerita dan
menyimak. Seperti yang dikutip dalam Wright (1995: 4). Listening and reading
fluency is based on: a positive attitude to not understanding everything, the skills
of searching for meaning, predicting, and guessing.
·
Speaking and writing fluency
Terasahnya kemampaun
speaking dan writing juga merupakan salah satu keuntungan yang diperoleh
melalui kegiatan story telling ini. Brown menyatakan (1994: 322)writing is, in
fact, a transaction with words whereby you free your self From what you
presently think, feel and perceive. Situasi yang lebih alami dan menyenangkan sangat
melekat dalam pelaksanaan pembelajaran jika menggunakan Story telling. Situasi
alami inilah yang diyakini membantu siswa untuk lebih mudah menerima dan
memahami materi tanpa harus merasa tegang dan gelisah jika dibandingkan dengan
cara penyampaian yang lain. Cara ini tampak lebih alami bagi mereka untuk berani
berbicara dan menulis. Jadi guru harus lebih peka dalam melihat Kebutuhan siswa
agar dapat memasukkan materi-materi yang sesuai dengan rencana. Pernyataan ini
senada dengan apa yang diungkapkan dalam Wright (1995: 4) It means That that
the teacher must encourage situations in which the child can be fluent and Can “have
a go”.
Dapat
disimpulkan bahwa Storries memberikan bantuan yang banyak dalam Pembelajaran empat
keterampilan bahasa Inggris. Selain itu, stories juga memberikan motivasi bagi
siswa untuk mendengarkan cerita. Hal ini mendorong mereka lebih berani dan
percaya diri dalam memproduksi kalimat lisan dan tulisan.
·
Language awareness
According
to Brown (2000: 5) Language is a set of arbitrary symbols, other than that he
also states that language is used for communication. Dengan kata lain, bahasa merupakan alat yang digunakan
untuk bertukar ide, perasaa, dan hal lainnya. Kebanyakan orang memperoleh
bahasa dengan cara berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Memahami apa yang
disampaikan oleh penutur merupakan hal penting dalam komunikasi, dan memiliki
kemampuan ini berarti yang bersangkutan memiliki kompetensi berbahasa. Brown
(2000: 31) states the definition of Language Competence is one’s underlying
knowledge of system of a language-its rules of Grammar, vocabulary, and all the
pieces of language and how those pieces fit Together. Melalui story telling ini
membantu siswa untuk memmiliki kompetensi tersebut. Dengan diberikannya
kegiatan ini secara berkesinambungan, diharapkan akan menimbulkan language
awareness. Siswa menjadi “aware” terhadap perasaan pada waktu mendengarkan
bahasa asing. Memperdengarkan cerita membantu mereka untuk mempelajari bahasa
Inggris tanpa harus membuat mereka memproduksi kata- kata dalam spoken dan
written expression. Seperti dalam Wright (1995: 5) stories also introduce children
to language items and sentence constructions without their necessarily having
to use them productivity. Bila datang masanya mereka harus memproduksi bahasa
Inggris bukanlah hal yang berat lagi karena bahasa Inggris Bukan hal baru. Jadi
tanpa diragukan lagi, bahwa story telling memberi contoh cara pembelajaran yang
mudah dan alami bagi siswa dalam mempelajari bahasa asing. Pada akhir
pembelajaran bahasa Inggris nanti mereka
akan mencapai hasil yang Memuaskan. How each activity is organized. Beberapa
poin yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan kegiatan ini agar tercapai
maksud yang dikendaki. Berdasarkan Wright (1995:7) poin-poin tersebut adalah:
A.
Level
Pemberian
leve ini harus berdasarkan pada apa yang harus dilakukan oleh siswa, bukan berdasarkan
pada kerumitan bahasa dalam cerita.
B.
Umur
Umur
menjadi pertimbangan untuk memilih cerita yang akan disampaiakan. Sebagai
contoh terkadang ada siswa yang sudah berusia remaja tetapi masih senang Mendengar
cerita anak-anak. Jadi umur harus menjadi salah satu pertimabangan dalam memilih
cerita.
C.
Waktu
Waktu
sangat membatasi proses pembelajaran. Pemilihan cerita sebaiknya tidak terlalu
memakan waktu yang lama, agar tidak mengganggu sisa kegiatan pembelajaran yang
lain.
D. Bahasa
Bahasa
disesuaikan dengan cerita dan level kemampuan siswa. Pemberian cerita yang
mengandung bahasa yang telalu rumit akan mengganggu proses pembelajaran.
E. Materi
Materi
harus dipersiapkan terlebih dahulu mengingat adanya rangkaian katifitas yang
harus dilakukan setelah story telling dilakukan.
F. Persiapan
Hal-hal
yang berkaitan dengan kegiatan story telling harus dipersiapkan sebelum kelas
dimulai.
G. In Class
Langkah-langkah
yang akan ditempuh dalam memandu pembelajaran sangat penting dipersiapkan.
Jikalau terjadi sesuatu yang tidak diharapkan dalam proses pembelajaran,guru
dapat segera melakukan penyesuaian dan improvisasi.
H. Follow-up(s)
Pemberian
contoh-contoh dan materi yang lain yang masih berkaitan dengan pembelajaran dan
topik yang sudah diberikan.
Example of stories
“Dayang Bandir” Foklore from North Sumatra.

Once
upon a time, there were two kingdoms in North Sumatra, the Eastern Kingdom and
the Western Kingdom. The Eastern King got married with the Western King's
sister. Later, they had a baby girl. They named her Dayang Bandir. Seven years
later, they had another child. They named him Sandean Raja. When Sandean Raja
was a kid, his father, the Eastern King died. The rule said that the king's son
would be the next king. However, Sandean Raja was still a kid. He had to wait
until he was adult to be the king. The elderly of the Kingdom asked Uncle
Kareang to be the king. Uncle Kareang was the Eastern King's younger brother. The
Eastern king had a magical sword. Uncle Kareang wanted to have the sword.
Without the sword, he was only the temporary king. He was looking for the sword
everywhere but he could not find it. He knew Dayang Bandir hid the sword. She
wanted to give the sword to her brother, Sandean Raja, when he was adult. She
wanted her brother to be the next king. Uncle Kareang was really angry. He
asked the soldiers to take Dayang Bandir and Sandean Raja to The jungle.
Soldiers then tied Dayang Bandir on top of a big tree in the jungle. They would
Bring her down after Dayang Bandir told them where the sword was. But she never
told them. Then the soldiers left Dayang Bandir and Sandean Raja alone in the
jungle. Sandean Raja cried under the big tree. He could not climb the big tree.
Everytime he tried to climb, he fell down. Days passed by Dayang Bandir was
getting weaker and weaker. She finally died. Sandean Raja then left alone in
the jungle. He was not really alone actually. Her sister spirit always
accompanied him. They still could talk each other. When Sandean Raja was adult,
he decided to go to the Western Kingdom. The king, king Sorma, was his uncle.
He wanted to talk about his bad experience.
King
Sorma was surprised when he met Sandean Raja. He heard that sandean Raja and
Dayang Bandir died in the jungle. He was not sure that Sandean Raja was really
his nephew. “If you are really my nephew, remove that big tree”, said king
Sorma. Sandean Raja was a powerful man. He could remove that big tree easily.”I
have the last test, go to that dark room. there are many girls there. Which one
is my daughter?” said King Sorma. "Don't worry, my brother, I will help
you," said Dayang Bandir's spirit. Sandean Raja then could find the King
Sorma's daughter. The king then was sure that the young man was really his
nephew. After that, Tandean Raja told told him about his sister and all his bad
experience with Uncle Kareang. King Sorma then asked his soldier to attack the
Eastern Kingdom. The Western Kingdom won the war. Sandean Raja then became the
king of the kingdom. Later, her sister's spirit told him where the sword was.
Berdasarkan
pembahasan dapat disimpulkan bahwa penggunaan story Telling dalam pembelajaran
bahasa Inggris dapat mengasah kemampuan menyimak dan membaca serta menulis dan
berbicara siswa. Hal ini memberikan hasil yang lebih baik bagi performance bahasa
Inggris siswa dari waktu ke waktu. Selain itu suasana nyaman tersebut
memberikan dorongan yang positif kepada siswa. Mereka Mendapatkan motivasi
selama dan setelah mendengarkan cerita. Kondisi yang seperti ini sangat
membantu mereka untuk menguasai bahasa Inggris. Melihat kenyataan ini, Disarankan
penggunaan story telling dalam pembelajaran bahasa Inggris lebih Diintensifkan lagi.
Daftar pustaka
Brown, H. Douglas.
1994. Principles of language learning
and teaching (Third Edition). San Francisco: Prentice Hall Regents.
Wright, Andrew. 1995.
Story telling with children. New York: Oxford University Press.
0 komentar: